Kamis, 18 Juni 2009

PRAGMATISME MAHASISWA

Oleh: Irfa Fahd Rizal

Seiring dengan perkembangan jaman, perkembangan kebudayaan masyarakat berserta dengan pola pikirnya pun terus berubah. Masyarakat Indonesia, yang termasuk sebagai negara berkembang pun mengikuti arus yang terjadi dalam arus globalisasi.
Perkembangan pola pikir manusia terus dihujani dengan realitas yang matrealististis, menjadikan manusia itu sendiri sangat berorientasi matrealistis. Menurut Kuntowijoyo (1999) matrealisme itu sendiri sekarang sudah merupakan bagian dari kehidupan itu sendri. Penilaian manusia yang sudah mengarah pada sesuatu yang lebih nyata dan jelas hampir tidak bisa dibdakan antara suatu golongan dengan golongan yang lainya, dari mulai masyarakat kota, masyarakat pedesaan, para bisnisman, politisi dan negarawan, bahkan para intelektualitas itu sendiri.
Menjadi menarik ketika fenomena ini dikaitkan dengan simbul intelektual, icon figur yang memliki wawasan dibangsa ini, yaitu mahasiswa. Sebagai para penuntut ilmu dibangku universitas-universtas, mahasiswa tidak luput dari paradigma matrealisme itu. Oleh karena itu bukan hal yang aneh ketika kemudian pola fikir yang berkembang dalam benak intelektula muda kita adalah sangat pragmatis. Bahkan dalam menjalani proses pendidikan sekalipun.
Sebagaimana judul yang tertulis diatas penulis merasakan kemudian adanya pegeseran pola penangkapan proses pendidikan yang terjadi dengan pragmatisme para mahasiswa. Mahasiswa dapat dibilang menjadi proses pendidikan sebuah proses transaksional. Hal ini tampak dalam bagaimana cara pandang yang mahasiswa tentang tujuan maupun orientasinya setelah menyelasaikan proses study di Perguruan Tinggi, tidak sedikit diantara meraka yang mengatakan: “pokoknya setelah lulus S1, harus kerja dengan gaji minimal 2jt”. Ataupun juga menganggap bahwa semua yang dikeluarkan dalam proses pendidikan harus sebanding dengan apa yang dikeluarkan, sehingga menjadi tidak penting rasanya untuk melanjutkan pada jenjang selanjutnya, pada jenjang pascasarjana, pada program magister apalagi program doktoral.
Menjadi hal yang lumrah bahwa hal yang sangat difokuskan para mahasiswa kita setelah lulus adalah agar dapat bekerja. Namun ketika hanya mengarah pada kerja dan kerja seperti yang terfikirkan didalam kebanyakan benak mahasiswa, menunjukkan pragmatisme pemikiran mereka.
Pragmatisme sendiri ditumbuhkan oleh William James (1842-1910), seorang profesor dari Harvard pada 1907dengan buku pragmatism. Pokok dari teori kebenaran tentang pragmatise ialah, kepercayaan itu benar dan hanya kalau berguna. Ukuran dari kebenaran ialah, apakan suatu kepercayaan dapar menantarkan orang pada tujuan. Pragmatisme menolak pandangan tentang kaum rasionalis dan idealis, karena pandangan mereka tidak berguna dalam kehidupan praksis.
Oleh karena itu dalam pandangan pragmatisme, semua hal akan tertuju pada fungsi praksisnya. Sebagaimana hal tersebut, fenomena yang terjadi dalam pola pandang mahasiswa di Indonesia ini mengarah pada pandangan tersebut. Dimana proses belajar mengajar tidak berasal dari padangan idelisme untuk menuntut ilmu pengetahuan, maupun pendapat untuk mencari kebenaran rasional, yang dalam pandangan pragmatis dikatakan tidak berguna.
Namun berbeda dengan tersebut, perkuliah yang dijalani mahasiswa dilihat sebagai sebuah proses yang sangat berguna, karena akan meningkatkan nilai seorang individu yang sarjana daripada yang lulusan SMU misalnya. Pandangan pragmatisme tampak lagi ketika sebagaian mahasiswa dapat dikatakan hanya memikirkan pekerjaan setelah lulus. Selain itu tampak pula, pada beberapa mahasiswa yang memutuskan untuk putus kuliah (mahasiswa yang sebenarnya mampu) oleh karena sudah memliki penghasilan sendri, baik menjadi karyawan maupun sebagai wiraswasta dengan asumsi, “buat apa kuliah kalau ujung-ujungnya cari uang, sedangkan sekarang cari uang pun sudah bisa”.
Perilaku mahasiswa yang menjadi pragmatis dalam menjalani pendidikan dapat disebabkan oleh berbagai hal yang mempengaruhi. Pengaruh dapat diakibatkan dari pengalaman masa lampau, maupun akumulaisi pengalaman yang kemudian membentuk sebuah pandangan hidup. John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita tidak sekedar muncul berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara terus menerus berubah atau diubah oleh lingkungan - "situasi kita" - termasuk tentunya orang lain. Manusia tidak menanggapi lingkungannya secara otomatis. Perilaku mereka tergantung pada bagaimana mereka berpikir dan mempersepsi lingkungannya. Jadi untuk memperoleh informasi yang bisa dipercaya maka proses mental yang kemudian meyakini kebenaran pragmatis seseorang merupakan hal utama yang bisa menjelaskan perilaku sosial seseorang, yang kemudian menjadikan segala sesuatu pada asas kegunaan.
Hal yang kompleks yang kemudian menjdaikan mahasiswa di Indonesia berpandangan pragmatis memang dipengaruhi dari berabagai aspek. Selain itu dalam melihatnyapun dapat mengunkan dengan beberapa kerangka teoritis. Ada 3 teori yang penulis gunakan dalam melihat fenomena pragmatisme yang terjadi pada mahasiswa di Inodnesia dewasa ini.

Teori Peran (Role Theory)
Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini, seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya, diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut. Mengapa seseorang belajar orang, karena dia adalah seorang mahasiswa. Jadi karena statusnya adalah mahasiswa maka dia harus belajar. Perilaku ditentukan oleh peran sosial. Selain itu ada juga peran lain yang dimaikan oleh mahasiswa yaitu sebagai tenaga-tenaga terpelajar. Kebutuhan perusahaan akan tenaga-tenaga terpelajar bergelar sarjana kemudian mengrahakan mahasiswa pada tenaga produksi dalam ekonomi.

Teori Pernyataan Harapan (Expectation-States Theory)
Teori ini diperkenalkan oleh Joseph Berger dan rekan-rekannya di Universitas Stanford pada tahun 1972. Jika pada teori peran lebih mengkaji pada skala makro, yaitu peran yang ditetapkan oleh masyarakat, maka pada teori ini berfokus pada kelompok kerja yang lebih kecil lagi. Menurut teori ini, anggota-anggota kelompok membentuk harapan-harapan atas dirinya sendiri dan diri anggota lain, sesuai dengan tugas-tugas yang relevan dengan kemampuan mereka, dan harapan-harapan tersebut mempengaruhi gaya interaksi di antara anggota-anggota kelompok tadi.
Sudah menjadi atribut tersendri dimana mahasiswa sebagai orang-orang yang mempelajri suatu disiplin ilmu kemudian diharapkan dapat menjadi ahli dibidangnya. Oleh karena itu profesionalisme kemudian menjadi hal yang mutlak. Mejadikan mahasiswa pada suatu disiplin ilmu tidak telampau peduli dengan disiplin lainya, termasuk masalah kebangsaan. Pandangan pragmatisme mendapat apology dengan profesionalisme yang dituntut dari seorang mahasiswa kelak.
Kemudian ketika teori pernyataan harapan ditarik pada ranah yang lebih mikro, pada sekup keluarga dan lingkungan kecil mahasiswa. Hampir sebagaian besar orang tua yang mengharapakan anaknya yang kuliah, untuk kemudian mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus.

Posmodernisme (Postmodernism)
Baik teori peran maupun teori pernyataan-harapan, keduanya menjelaskan perilaku sosial dalam kaitannya dengan harapan peran dalam masyarakat kontemporer. Beberapa psikolog lainnya justru melangkah lebih jauh lagi. Pada dasarnya teori posmodernisme atau dikenal dengan singkatan “POSMO” merupakan reaksi keras terhadap dunia modern. Teori Posmodernisme, contohnya, menyatakan bahwa dalam masyarakat modern, secara gradual seseorang akan kehilangan individualitas-nya – kemandiriannya, konsep diri, atau jati diri. (Denzin, 1986; Murphy, 1989; Dowd, 1991; Gergen, 1991) . Dalam pandangan teori ini upaya kita untuk memenuhi peran yang dirancangkan untuk kita oleh masyarakat, menyebabkan individualitas kita digantikan oleh kumpulan citra diri yang kita pakai sementara dan kemudian kita campakkan..
Berdasarkan pandangan posmodernisme, erosi gradual individualitas muncul bersamaan dengan terbitnya kapitalisme dan rasionalitas. Faktor-faktor ini mereduksi pentingnya hubungan pribadi dan menekankan aspek nonpersonal. Kapitalisme atau modernisme, menurut teori ini, menyebabkan manusia dipandang sebagai barang yang bisa diperdagangkan – nilainya (harganya) ditentukan oleh seberapa besar yang bisa dihasilkannya.
Kepribadiannya hilang individualitasnya lenyap. Itulah manusia modern, demikian menurut pandangan penganut “posmo”. Perilaku seorang mahasiswa menjadi tidak lagi tampak karakteristiknya secara individu, namun dapat dirsakan fenomenanya secara umum, yang memposisikan pendidikan dengan pragmatis.

Selasa, 02 Juni 2009

INDEGENOUS LEADERSHIP: SEBUAH PENDEKATAN KEPEMIMPINAN LOKAL yang MENGGLOBAL

PENDAHULUAN
Pembicaraan kepemimpinan merupakan tema yang muncul sejak lama. Pembicaraan tentang kepemimpinan sendirI bahkan sama lamanya dengan keberadaan manusia sebagai mahluk social. Bahkan kepempinan ddibicarakan bersamaan dengan adanya manusia didunia ini.
Kepemimpinan sendiri merupakan sebuah kamampuan yang dimiliki seseorang untuk mengatus sutu kelompok atau komunitas. Ada juga yang mengatakan, bahwa kepemimpinan merupakan sebuah seni yang dapat dimiliki oleh semua orang, namun hanya dapat ada ciri antar individu akan berbeda.
Esensi dari sebuah kepemimpinan sendiri adalah lebih dari sekedar memberikan perintah dengan kekuasaan maupun wewenang adalah dapat mempengaruhi orang lain. Suatu kelompok dapat disebut memeliki pemimpin, jika terdapat sosok yang berperan dalam kelompok itu, baik dalam segi kebijakkan, pemikiran maupun pengambilan kebijakan.
Kepemimpinan sendir merupakan sebuah kemampuan untuk mempengaruhi sebuah kelompok untuk mencapai sebuah misi atau serangkaian tujuan yang ditetapkan (Robbins and Judge, 2008). Seumber pengaruh yang dimiliki seoranga pemimpin bisa jadi diperoleh dengan formal, seperti para pimpinan-pimpinan oraganisai, jabatan pemerintahan, maupun secara informal seperti kepemimpinan para tokoh masyarakat yang kerap dapat mempengaruhi walau tanpa jabatan formal yang didudukinya.
Kepemimpinan merupakan hal yang senantisa dibicarakan, bahkah dalam salah satu hadist Rasullah SAW, yang artinya: “setiap orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya”. Semakin menunjukkan bahwa sebuah kepemimpinan bagi agama, khusunya islam, merupakan tema yang sangatlah penting. Pada hadist tersebut tidak sekedar menunjukkan bahwa setiap orang, pasti memimpin sesuatu, namun lebih dari itu adalah agar bagaimana orang yang telah memimpin tersebut dapat memimpin dengan baik dan efektif dengan dimintai pertanggungjawaban.

Tipe Kepemimpinan
Tipe kepemimpinan merupakan penggolongan karakter seseorang dalam memimpin. Penggolongan yang paling umum dalam tipe kepemimpinan, dibagi menjadi tiga tipe. Pertama adalah kepemimpinan otoriter; yaitu dimana pemimpin menggunakan otoritas ataupun wewenangnya untuk memimpin anggota/ bawahanya. Pola yang dilakukan adalah komando dan perintah. Kedua adalah kepemimpinan laises faire; yaitu seorang pemimpin yang dalam memimpin anggotanya memberikan kebebasan yang tinggi. Berlawanan dengan otoriter yang pengawasannya tinggi, pada pola ini pengawasan pimpinan sangat lemah. Ketiga adalah kepemimpina demokratis; pada tipe ini seorang pemimpin memberikan kesempatan pada bawahanya untuk merundingkan. Dengan kata lain, pada tipe ini atara pimpina dan bawahanya / atau anggota / partnernya, lebih bersifat psrtisipatif dalam memberikan keputusan, tugas maupun kebijakkan.

Kepemimpina Situasional
Dalam menjalankan fungsi kepemimpinanya, tidak saja akan dilihat kemampuan seseorang memimpin, namun lebih dari itu dilihat sejauh mana efektivitas kepemimpinan itu. Adapun efektivitas kepemimpinan bukanlah suatu kondisi yang dipengaruhi dari satu ataupun tanpa tepengaruh oleh variable lain. Harsey dan Blanchard (1994) mengatakan efektifiats kepemimpinan dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu; pemimpin, pengikut (orang yang dipimpin), dan konidisi lingkungan.
Maka sebuah proses kepemimpinan tidak dapat dilihat dari satu sudut pandang saja. Dimana figure seorang pemimpin tidak serta merta menjadi faktor utama dalam kesuksesan kepemimpnan. Misalnya saja seorang leader yang menggerakkan organisasinya dengan segala kemampuanya bisa jadi tidak akan mencapai hal yang maksimal jika tidak didukung oleh orang-orang yang dipimpin kooperatif serta atmosfir dan lingkungan karja yang mendukung pula.
Menurut Harsey dan Blanchard (1994), seorang pemimpin memang merupakan bagaian dari faktor yang mendukung dalam efetivitas kepemimpinan, misalanya ia mampu berkomunikasi dengan baik memiliki lobby organisasi yang baik serta mampu bergaul dengan bawahan maupun partner. Maka dengan bawahan yang mampu menerima komunikasi dari pemimpin tersebut, sekligus dengan lingkungan yang memungkinkan dapat berinteraksinya kedua belah pihak dengan baik akan menghasilkan proses kepemimpinan yang baik.
Berdasar teori kepemimpina situasional diatas maka penting juga mengetahui karakter masing-masing faktor. Karakter masing-masing faktor disini adalah dari pemimpin, orang yang dipimpin serta lingkungan yang dipimpin. Jika ketiga faktor itu mampu dipadukan maka kepemimpinan akan lebih efektif. Adapun yang mampu mempengaruhi kesamaan maupun sesuatu yang dapat mengarahkan sinergitas yaitu persamaan budaya. Pengakajian tentang budaya menjadi lebih penting oleh karena yang kita cari adalah karater indigenous libership. Oleh karena tipikal lokak yang dapat mempengaruhi budaya maupun masyarakat local, yang tentu karena terdapat berbagai ciri maka budaya merupakan akar dari indigenous leadership itu sendiri.

KEPEMIMPINAN dan BUDAYA
Kepemimpinan sangat terkait erat dengan perilaku, oleh karena dinamika yang muncul dalam ketrampilan mempengaruhi yang menjadi inti dari sebuah ketrampilan memimpin membutuhkan pendekatan ilmu perilaku/ pesikologi. Sebagaimana dalam mempelajari psikologi yang terkait erat tentang tingkah laku, pola pikir, makna, dan nilai haruslah mempertimbangkan budaya (Cole, 1990; Ratner, 2002; Kim, 2006). Bahkan tokoh seperti J.G. Miller (1999; Markus & Hamedani, 2007) mengatakan bahwa psikologi merupakan masalah budaya. Maka begitu halnya pula dalam mempelajari dan khususnya dalam melaksanakan kepemimpinan sudah seharusnya memperhatikan aspek-aspek budaya. Terlebih lagi karakter bangsa timur dan Indonesia pada khususnya, sangatlah lekat pada unsur ini. Budaya sebagai bentuk hasil karya manusia merupakan sesuatu yang mengontrol dan membentuk pola-pola bagaimana manusia itu berpikir dan bertingkahlaku.
Budaya sendiri merupakan suatu hal yang memiliki banyak arti. Kroeber dan Klucholm (1952) setidaknya mengelompokkan enam definisi budaya; 1) definisi deskriptif. Yaitu totalitas yang mencakup banyak bidang dan unsur seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moralitas, adat kebiasaan dan kemampuanserta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. 2) definisi historis. Aitu suatu warisan yang diteruskan sepanjang waktu dari satu generasi kegenarasi yang lain. 3) definisi normatif. Yaitu suatu aturan atau cara hidup yang membentuk pola perilaku dan tindakan, yang kerapkali dilihat sebagai suatu sistem nilai. 4) Definisi psikologis. Yaitu sebagai sarana memecahkan persoalan yg memungkinkan masyarakat berkomunikasi, mempelajari atau memenuhi kebutuhan materiil dan emosional. 5) Definisi struktural. Yaitu melihat kebidayaan sebagai antarrelasi aspek-aspek kebudayaan yg teroganisir. Kebudayaan dilihat sebagai abstraksi yang berbeda dari perilaku yang kongrit. 6) Definisi genetik. Merumuskan cara bagaimana kebudayaan timbul dan berlansung.
Dari keenam definisi kebudayaan menurut Kroeber dan Klucholm tersebut, oleh R. Williams, istilah kebudayaan kemudiam dipersempit menjadi tiga yaitu: 1) Mengacu pada makna seperti perkembangan inteletual, spiritual, dan estetik dari seorang individu, kelompok atau masyarakat. 2) Mengacu pada produk (artifacts) seperti pada serangkaian kegiatan intelektual, artistik dan produk kegiatan itu seperti film, seni, teater, atau bangunan. 3) mengacu pada praktek yaitu melukiskan keseluruhan cara hidup, aktivitas, kepercayaan dan adat kebiasaan (Williams, 2002; Markus & Hamedani, 2007). Serangkaian makna, praktek (aktivitas), dan produk ini bukanlah hasil dari individu (langsung) tetapi hasil dari individu-individu yang berinteraksi, berkumpul, dan saling berbagi mengenai suatu hal atau permasalahan. Mengacu pada pemahaman tersebut, pemaknaan, nilai, cara, dan bertingkahlaku nya manusia pada tiap-tiap budaya akan berbeda ataupun sama tergantung pada pola komunikasi, interaksi, cara, dan memahami suatu keadaan sosial.
Menurut Kim (2006), General Psychology memahami manusia dengan tidak mempertimbangkan konteks dan dinamika perubahan, serta meyakini prinsip yang universal suatu respon dari stimulus tertentu adalah kegagalan dari psikolog Barat yang tidak dapat memahami manusia secara Holistik, atau manusia yang sesungguhnya. Berdasar itu pulalah, dalam mempengaruhi manusia tidaklah cukum hanya mengandalkan konsep-konsep dar para teoritikus-teoritikus dari barat yang tentu dalam beberapa aspek mengandung bias budaya. Kepemimpinan yang sangat memperhatikan mengenai perilaku dan pola pikir manusia mesti melibatkan makna, nilai, keyakinan, dan konteks (keluarga, sosial, budaya, dan lingkungan) sehingga arti dari suatu pemahama atau tindakan dari konteks tertentu. Seseorang bisa saja dapat menjadi pemimpin secara formal dimana saja. Namun misalnya seorang etnis Eropa, ketika memimpin orang jawa, bisa saja tidak dapat optimal mempengaruhi masyarakat jawa tersebut jika memang tidak memiliki nilai-nilai kejawaan yang melekat pada dirinya. Jika orang Eropa tersebut pun mampu memimpin tidak lain hanyalah dipengaruhi oleh sekedar jabatan formal yang didapatkannya.
Berangkat dari keyakinan yang telah banyak muncul bahwa budaya adalah hasil dari kreasi manusia dan hasil kreasi manusia itu terikat dengan konteks, saat ini banyak tokoh-tokoh psikologi yang mulai mempelajari kaitan budaya dengan tingkahlaku (Markus & Hamdani, 2007), yang juga terkait erat dengan aplikasi kepemimpinan. Kajian nya dapat berupa etic, yaitu menganalisis tingkahlaku yang menitik beratkan pada hal-hal yang universal atau prinsipil seperti semua manusia makan, atau semua manusia memerlukan hubungan yang intim. Analisis etic ini biasa dilakukan untuk mengetahui bagai mana pola perilaku manusia dalam kerangka lintas-budaya. Analisis berikutnya dapat berupa Emic. Analisis ini memahami suatu hal yang berbeda berdasarakan keadaan budaya yang memang khusus, misalnya cara makan orang padang berbeda dengan cara makan orang barat, orag padang menggunakan tangan sementara orang barat menggunakan sendok (Hogg & Vaughan, 2006).
Salah tokoh yang melakukan penelitian lintas budaya adalah Hoftede. Hoftede mengkategorikan model budaya ke dalam 1) power distance, yaitu tingkat power yang tidak setara di dalam institusi dan kerja yang diterima secara wajar. 2) Uncertainty Avoidance. Pembentukan stabilitas dalam menghadapi ketidakpastian. 3) Masculinity-femininity. Menilai suatu budaya bertipe maskulin (menitik beratkan pada kesuksesan) atau feminin (menitikberatkan pada merawat atau harmonisasi). 4) Individualism-collectivism. Melihat suatu buadaya apakah lebih individualistik atau kolektivistik. Keempat kategori budaya ini kemudian diuji oleh Hoftede keberbagai negara.
Kim (2006) berpendapat bahwa apa yang telah dilakukan oleh Hoftede, dalam psikologi lintas budaya nya telah terperagkap pada tautologis: psikologis dan tingkahlaku data digunakan demi mendefinisiskan dan mengkategorikan budaya untuk menjelaskan perbedaan individu dan budaya. Psikologi lintas budaya menganggap bahwa budaya merupakan variabel quasi-bebas dan budaya sebagai variabel terikat. Psikologi lintas budaya lalu ingin mencermati bagaimana budaya mempengaruhi tingkahlaku individu yang sebenarnya samasekali tidak mengetahui apa-apa atau terlalu dangkal sehigga gagal mengetahui makna yang sesungguhnya.
Tidak hanya analisis psikologi lintas budaya, psikolog-psikolog yang bergelut di psikologi budaya pun gagal memahami budaya dan tingkahlaku di dalam konteks yang sesungguhnya. Menurut Hwang (2005) psikologi budaya berangkat dari perbedaan untuk memahami manusia dan kebudayaan. Mereka meyakini akan kesatuan pikiran mansia tetapi dengan banyak mentalitas. Hal ini mengindikasikan bahwa pikiran manusia adalah sama tetapi berevolusi ke dalam mentalitas yang bebeda di dalam perbedaan sosial dan lingkungan.
Kegagalan dari teori-teori psikologi atau general psikologi ini mengantar Kim (2006) untuk memperkenalkan konsep psikologi Indegeneous. Indigeneous Psychology merupakan studi sains mengenai tingkahlaku manusia atau pikiran yang berasal dari native, yang bukan dibuat dari budaya lain, tetapi dibuat untuk budaya nya. Indigenous psychology menyokong pengujian pengetahuan, keahlian, dan keyakinan orang mengenai dirinya, serta kegunaannya di dalam konteks budaya tertentu. Model penelitiannya adalah pendekatan bottom-up dengan tujuan awal adalah pemahaman secara menyeluruh mengenai fungsi manusia di dalam konteks budaya (Kim, 2006). Contoh nya seperti kebutuhan dasar manusia. Maslow mengungkapkan bahwa kebutuhan dasar manusia yang paling dasar adalah pemenuhan kebutuhan biologis (sex dan makan). Menurut Maslow, kebutuhan paling dasar ini umum pada manusia dan tidak terikat konteks. Argumentasi tersebut tentu saja harus diverivikasikan ulang ketika ingin diuji di dalam masyarakat Jawa. Menurut pemahaman orang Jawa kebutuhan paling dasar mereka adalah berkumpul atau bersama-sama keluarga. Perkataan orang Jawa seperti “mangan ora mangan asal kumpul” menjelasakan betapa bersama itu lebih penting daripada kelaparan itu sendiri . Dalam hal ini, indegeneous psychology mengajarkan para peneliti untuk tidak gegabah dalam mengambil kesimpulan penelitian.
Kim menjelaskan bahwa ada tiga tipe pengetahuan yang perlu dipahami: 1) objektif, pengetahuan orang ketiga. Model ini bersifat analitis, semantic, dan pengetahuan yang menerangkan (declarative). Hal in merepresentasikan informasi yang berdasarkan suatu yang objektif dan impartial (tidak memihak). 2) interaktif, pengetahuan orang kedua. Model ini lebih menitik beratkan pada analisis wacana, dan merepresentasikan pengetahuan yang diperoleh melalui dialog, wacana dan wawancara yang berfokus kelompok. 3) subjektif, pengetahuan orang pertama. Model ini lebih menitik beratkan pada pengetahuan yang fenomenologis, episodic dan procedural. Hal ini merepresentasikan pengetahuan yang didapat dari pengalaman dan menerangkan mengenai dirinya (the inner psychological world of a person). Penelitian ini dapat diperoleh melelui diary, wawancara, dan self-report. Tiga tipe ini mesti dipertyimbangkan dan digunakan ketika seorang psikologi ingin mengengetahuai fenomena psikogis dipahami dalam konteks yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, inti dari indigenous leadership adalah mencoba memberikan alternative lain kepada pemimpin yang berupaya memahamai fenomena yang sesuai di dalam konteks nya. Bagaimana dalam memimpin agar tidak sekedar terfokus pada tugas, pelaksanaan perinatah, namun lebih pada bagaimana seorang pemimpin dapat memberikan pengaruh orang yang dipimpinnya dengan tidak mengacuhkan aspek budaya. Di Asia, khususnya Indonesia, potensi mengembangkan indigenous psychology ini amat besar.

Jumat, 22 Mei 2009

¨Hidup Itu Harus Ikhlas, Kalau Ga Mati Aja sana!!¨

Oleh: Irfa Fahd Rizal

¨Hidup Itu Harus Ikhlas, Kalau Ga Mati Aja sana!!¨


Entah kenapa tiba-tiba kata-kata itu terbesit ditelinga saya (hehe.. tapi bukan karena saya skizofen atau kesurupan loh..). Maksud saya adalah bahkan ketika kita sudah ditentukan hidup, setelah perjuangan si ¨sperma¨ yang telah mengalahkan yang lain, trus setelah penuh perjuanganya si ¨zigot¨ melewati lorong yang beresiko, hingga bertahanya si ¨janin¨ sehingga muncul dari habitatnya ke dunia nyata ini, maka hiduplah kita.

Munculnya kita dunia ini seharusnya ditanggapi dengan Ikhlas. Ini peneting menurut saya karena tidak sedikit orang yang ¨terus-menerus¨ dan tidak henti hentinya mengeluhkan hidupnya. Bahwa didalam kehidupan ini penuh dengan masalah, ketidakpastian, ancaman, kesedihan, beban, musibah, maupun dinamika tentang cita-cita dan cinta yang tidak semulus seperti apa yang kita inginkan, kesemuanya itu menjadi komposisi dalam kehidupan ini.

Bagiku sendiri segala yang telah aku putuskan, maka q harus ikhlas melaksanakannya (tentu selama tidak menyalahi aturan sang Illahi Rabb, Allah SWT).

Ikhlas dalam Beragama
Keputuasan saya memeluk agama islam misalnya, (walaupun memang sejak kecil sudah islam, tapi kan keputusan sekarang kan untuk tetap islam) kemudaian dengan berbagai aturan yang ada, maka saya pun harus ikhlas menjalankan perintah-perintah dalam agama islam tersebut. Ketika saya berhadapan dengan seorang muslim yang sulit sekali diajak sholat, saya senantiasa mempertanyakan bagaimana konsekuesinya ketika telah memastikan diri memeluk suatu agama, dengan kata lain ya harus ikhlas menerima aturan-aturan yang ada (ketika kita memilih sesuatu), apalagi agama.

Ikhlas dalam Berorganisasi
Tidak sedikit orang yang ¨gagap¨ menganggapi tentang adanya berbagai macam aliran, kelompok, dan organisasi di dunia, khususnya di Indonesia ini, dengan tidak berafiliasi pada satu kelompok pun. Padahal menurut saya, apalah daya seorang diri ketika mempelajari agama (misalnya Islam), oleh karena itu berorganisasi adalah mutlak dalam berda´wah. Nah, selain itu ada juga beberapa orang yang memang secara de facto, ia terlibat dalam suatu organisai, namun tidak sedikit pula yang mengesampingkan aturan maupun prosedural organisasi yang disepakati. Klo menurut saya orang seperti itu belum ikhlas dalam berorganisasi. Padahal seharusnya ketika muncul keputusan bergabung dalam suatu organisai maka seharusnya dengan ikhlas melaksanakan tugas2nya (tentu selama tidak menyalahi hukum Allah)

Nah, begitulah, ikhlas ya..
Trus definisi ikhlas sendiri dapat berarti tulus, tidak mengharapkan imbalan dan sebagainya. Tapi kalo bagi saya iklhas juga perlu pamrih, ya pamrih kepada Allah SWT. Jangan lupa pula pada ayat Al Quran yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162).

Prinsipnya adalah kita harus senantiasa menyadarkan segala yang kita perbuat pada Nya, namun juga harus siap dengan segala konsekuensi yang ada dengan tidak mentaati tata aturan disekitar kita dengan ¨sok-sok¨ an ¨hanya¨ mentaati Allah. Jangan lupa untuk memperjuangkan agamaNya juga butuk sistem dan strategi yang kuat jika kita ikut mentaatinya.

Wa Allahu ´alam bi Shawab.